AKU ORANG HEBAT😇

Entah kenapa, kali ini saya ingin mengatakan kalau saya itu orang yang hebat, orang yang sangat hebat. Karena saya bisa bertahan untuk hal-hal kecil yang sangat berharga🤍. 

Saya bukan seorang penulis. Saya hanya ingin bercerita tentang bagaimana kisah saya.

Saya adalah seorang mahasiswi psikologi tingkat akhir, yang sedang bergelut dengan SKRIPSWEET. Kalau di ingat jelas, bagaimana perjuangan saya untuk masuk di jurusan ini, sangat di sayangkan jika mudah untuk menyerah. Saya masih ingat jelas, bagaimana keseharian saya di kampus, dan di rumah. Saya bukan mahasiswi yang aktif di bidang organisasi. Saya hanyalah mahasiswi Kupu-kupu (kuliah, pulang, kuliah, pulang). Saya juga bukan mahasiswi yang paling pintar di jurusan saya. Tapi saya percaya diri, bahwa saya adalah mahasiswi yang bertanggungjawab untuk semua kegiatan dan tugas-tugas saya. Saya adalah mahasiswi yang sangat peduli dengan kualitas segala pekerjaan yang saya lakukan. Seperti mengerjakan essay, resume, makalah, artikel, PPT dan laporan. Meskipun bagi sebagian orang, kualitas karya saya itu mungkin biasa aja, tapi bagi saya itu adalah upaya saya yang sudah sangat maksimal. Selama di semester 1-7, setiap malam adalah waktu yang tepat untuk saya dalam membuat jurnal harian saya, sehingga apa yang akan saya lakukan setiap hari sangat tertata rapi, bahkan saya sangat jauh dari kata PROKRASTINASI. 

Saya juga masih ingat jelas, bagaimana saya dalam memilih judul skripsi saya. Meskipun sudah banyak fenomena, dan judul yang saya dapat, saya orang yang sangat pemilih. Bahkan di akhir saya kesal dengan diri saya, yang terlalu banyak mau, standart tinggi, sehingga tidak fokus pada tujuan utama, yaitu LULUS TEPAT WAKTU. Eh..kok saya malah bahas skripsi ya. 

Oke,kembali ke topik ya. Nah, di akhir semester 7 dan di awal semester 8, saya mengalami kejanggalan, salah satunya tidak pernah membuat jurnal harian lagi, melakukan aktivitas semau saya (kalau mood, ya saya kerjakan), jarang berdoa, dan tidak termotivasi untuk melakukan hal-hal yang membuat saya maju. Ketika saya sudah merasakan hal yang aneh tersebut, saya merasa bersalah, merasa tidak berharga, karena saya menganggap diri saya adalah orang yang malas, tidak tau diri, beda dengan saya di masa lalu. Saya dulu ingat jelas, bahwa saya ingin lanjut S2, tapi di sini saya merasa "S1 aja syukur deh ah, capek banget". Semangat saya hilang, setiap malam saya menangis, menyesali apa yang sudah saya lakukan, karena saya tidak berusaha maksimal untuk diri saya. Di tambah lagi dengan orangtua, kakak abang, dan semua keluarga saya bertanya, kapan sempro, kapan sidang, kapan lulus?. Entah kenapa, saya sangat benci dengan itu semua. Sampai saya terkadang melakukan hal-hal yang di luar dugaan, seperti menyayat tangan dengan silet, selalu minum obat tidur, dan selalu overthinking.

Sampai pada akhirnya saya tidak kuat dengan keadaan diri saya, dan memilih untuk konseling ke psikolog. Meskipun dosen saya banyak yang psikolog, saya lebih memilih mencari di aplikasi ALODOKTER. Karena saya merasa kurang nyaman untuk melakukan konseling dengan orang yang saya kenal, begitu juga sebaliknya. Saya masih ingat ini adalah konseling yang pertama, dan pembayaran saya untuk konseling via ALODOKTER sebesar 35.000. Setelah melakukan konseling via ALODOKTER, psikolognya mengatakan saya perlu mengunjungi psikolog secara langsung, karena kasus saya sangat kompleks. Akhirnya memutuskan konseling di luar aplikasi, dengan biaya Rp. 150.000 per sesi (1 sesi = 60 menit), dengan psikolog yang sama. Psikolognya baik, ramah, dan juga cantik. Saya melakukan konseling di luar aplikasi, sebanyak 6 sesi. Sehingga total pengeluaran saya selama konselingRp. 935.000. Sebenarnya konselingnya, tidak hanya sampai di sesi 6 saja, akan tetapi karena saya sudah merasa jauh lebih baik, saya minta sampai disitu aja, apalagi biayanya yang cukup besar. Saya konseling menggunakan tabungan saya sendiri, tidak ada keluarga yang mengetahui bahkan teman-teman saya tidak mengetahui saya melakukan konseling ke psikolog, selain kedua sahabat saya di kampus. Selama konseling, sahabat saya selalu menanyakan perkembangan saya. Sampai pada saat di sesi ke 3, saya di diagnosis mengalami Depresi. Saya cukup terkejut waktu itu, karena saya tidak pernah menyangka akan ada di posisi ini. Dan psikolognya mengatakan bahwa selama ini, saya bukan malas, akan tetapi prokrastinasi dengan gangguan depresi. Sehingga depresi nya perlu untuk dibenahi, supaya semuanya berjalan seperti semula. 

Kalau kalian membaca ini, mungkin kalian akan terkejut dan mengatakan "kok usia 21 tahun bisa depresi?, beban apa makanya bisa depresi di usia muda?, atau mungkin dia kurang berdoa, kurang taat sama Tuhan, dll". Seberapa kuat mental seseorang tidak ada yang tau, jadi stop menghakimi. Luka saat ini tidak langsung berdampak pada saat ini juga, tapi akan berdampak di masa yang akan datang. Sama seperti saya, karena saya cukup terkejut. Saya berpikir bahwa saya sudah memafkan dan melupakan hal tersebut, ternyata saya hanya menyimpan rapi semuanya dan tidak menyalurkan emosi saya. Sehingga meledak di waktu yang tidak saya sangka sebelumnya. Psikolognya memberikan terapi psikologi, supaya emosi, perasaan, perilaku saya bisa berubah menjadi lebih baik. Saya belajar untuk memaafkan diri saya di masa lalu, begitu juga orang-orang yang melukai saya sehingga mental saya begitu down. Akan tetapi saya cukup menjaga jarak dari orang-orang tersebut demi kesehatan mental saya sampai semuanya pulih. Saya banyak di ajarkan banyak hal oleh psikolognya, bagaimana caranya saya memiliki arti dan kebermaknaan hidup, dan juga memikirkan apa yang kita punya dari pada apa yang tidak kita punya. Saya di ajarkan untuk menemukan Support System yang baik, dan banyak hal lainnya. 

Saat ini saya sudah jauh lebih baik, saya memaafkan diri saya, memaafkan orang yang membuat saya terluka, tidak berpatok pada penyesalan-penyesalan saya di masa lalu. Saya juga belajar bagaimana mencintai diri sendiri, dan belajar menjadi orang yang respect terhadap kesehatan mental. 

Mungkin segitu aja dulu cerita saya hari ini. 

Jangan lupa mencintai diri sendiri, karena kamu lah satu-satunya orang yang paling mencintai diri mu. (Ga usah bingung sama artinya, pahamin aja dulu). 

See u dear 🤍.

Komentar